Oleh: Dr. Luluk Ernawati, M.A., Wakasek Bina Prestasi, Guru Pendidikan Agama Islam & Budi Pekerti SMA NU 1 Gresik
Raden Ajeng Kartini lahir pada tanggal 21 April 1879. Kelahirannya diperingati oleh bangsa Indonesia setiap tahunnya sebagai Hari Kartini sejak ditetapkannya Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 108 Tahun 1964, yang ditandatangani oleh Presiden Soekarno pada 2 Mei 1964. Penetapan ini sekaligus mengukuhkan R.A. Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional atas jasanya dalam memperjuangkan emansipasi dan kesetaraan hak perempuan.
Dalam memperingati Hari Kartini perempuan identik dengan baju kebaya, semangat baju adat, atau aksesoris lain yang sejenis. Berbagai perlombaan diadakan untuk memeriahkannya. Seminar perempuan hingga aksi sosial pun digelar. Dalam konteks memaknai Hari Kartini, sebenarnya apa yang kita harapkan? Bagaimana pandangan Islam terhadap perempuan? Bagaimana kita dapat meneladani Raden Ajeng Kartini sebagai figur perubahan kaum perempuan menjadi lebih berkualitas yang mampu berkontribusi untuk kemajuan berbagai lini dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
Raden Ajeng Kartini wafat di usia 25 tahun. Namun, dengan batas waktu yang terbatas itu beliau mampu menjadi agen perubahan bagi kaum perempuan Indonesia. Sosok yang memperjuangkan hak perempuan terutama dalam pendidikan dan kesetaraan gender. RA Kartini memperjuangkan perubahan melalui tulisan dan surat-surat yang kemudian dihimpun dalam buku berjudul “Habis Gelap Terbitlah Terang”.
“Saya mohon kepada Anda untuk memberikan kesempatan bagi kaum perempuan pribumi untuk mendapatkan pendidikan dan pengetahuan, bukan dalam rangka untuk menyaingi kaum laki-laki, melainkan untuk lebih menyempurnakan perannya pada peradaban.” Isi penggalan surat RA. Kartini dalam surat tersebut sudah sangat jelas mengenai kesetaraan hak, persamaan derajat, ataupun karir. (nu.or.id/opini/perempuan-dalam-islam-)
Pola pikir seorang gadis jawa dari bangsawan yang terbelenggu dengan budaya patriarki, feodalisme, dan kolonialisme. Ide-ide cemerlang yang melawan adat masa itu telah membawa dampak luar biasa terhadap keberanian, kegigihan, dan ketangguhan seorang perempuan.
Kita bisa melihat kondisi perempuan Indonesia saat ini di bidang pendidikan. Semangat perempuan melanjutkan pendidikan tinggi mengalami peningkatan. Badan Pusat Statistik (BPS) merilis laporan berjudul ‘Perempuan dan Laki-laki Indonesia 2024′ pada 20 Desember 2024. Laporan itu menyebut persentase perempuan yang duduk di bangku perkuliahan jauh lebih tinggi dibandingkan laki-laki. Di perkotaan, pada 2017 persentase laki-laki yang memiliki ijazah perguruan tinggi memang lebih besar dibanding perempuan. Persentasenya mencapai 11,86 persen dan 11,74 persen. Kemudian pada 2018 dan seterusnya, kondisi mulai berbalik. Persentase perempuan yang memiliki ijazah perguruan tinggi justru konsisten melampaui laki-laki. Pada 2024, persentase perempuan yang kuliah 14,08 persen dan laki-laki 12,69 persen.
Fenomena tersebut juga terjadi di pedesaan. Perempuan yang memiliki ijazah perguruan tinggi lebih tinggi dibanding laki-laki. Pada 2024, persentasenya sebesar 6,3 persen dan 4,86 persen.
Sementara pada bidang kepemimpinan perempuan, menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS), proporsi kepemimpinan perempuan di Indonesia sudah mencapai angka 32,26 persen pada tahun 2022. Tahun 2023 melonjak menjadi 35,02 persen. Perempuan memiliki potensi untuk menjadi pemimpin dalam berbagai aspek, diantaranya membimbing anak-anak, mengatur urusan rumah tangga, hingga memimpin sebuah komunitas atau gerakan sosial.
Sementara itu bagaimana Islam memandang Perempuan? Islam sangat memuliakan seorang perempuan. Dalam QS. al-Hujurat ayat 13 menerangkan tentang penciptaan setara antara laki-laki dan perempuan. QS. an-Nahl ayat 97, dimana laki-laki dan perempuan memiliki hak dan kewajiban yang sama dan mendapat imbalan yang sama pula. Bidang sosial, QS at-Taubah ayat 71 menjadi dasar bahwa perempuan memiliki hak yang sama dengan laki-laki dalam berbuat baik. Islam adalah agama pertama yang memberi hak perempuan dalam hal warisan. Perempuan berhak untuk memiliki dan mewarisi kekayaan atau harta benda.
Seorang muslim wajib berbakti kepada kedua orang tua baik ketika mereka hidup maupun sudah meninggal dunia. Orang tua yang telah mengandung kita selama sembilan bulan dengan penuh kesabaran, dialah ibu yang wajib kita hormati dan kita taati.
Bahkan dalam sebuah riwayat Rasululloh Salallahu alaihi wasallam ketika ditanyai orang tua mana yang harus dihormati terlebih dahulu, kemudian beliau menjawab “ibumu” lalu beliau ditanya dengan pertanyaan yang sama kemudian beliau menjawab “ibumu” hal ini terjadi sampai tiga kali barulah kemudian Rasululloh sallallahu alaihi wasallam menjawab “ayah” yang harus dihormati setelah menyebut kata “ibu” sebanyak tiga kali. Kemudian kewajiban berbakti kepada ibu didukung oleh adanya sebuah hadis yang artinya “Surga itu berada dibawah telapak kaki ibu”.
Islam juga memuliakan kedudukan wanita, menghapus tradisi jahiliyah, dan mewajibkan suami bersabar serta berbuat baik meskipun tidak menyukai sifat istrinya sebagaimana terdapat dalam QS. An-Nisa ayat 19. Dengan demikian, segala bentuk pelecehan terhadap perempuan adalah sesuatu yang tidak bisa dibenarkan dalam Islam.
Dalam jurnal “Urgensi dan Peran Ibu Sebagai Madrasahtul Ula dalam Pendidikan Anak” (Nurhayati dan Syahrizal; 2015) disebutkan bahwa ibu adalah madrasahtul ula yang berpengaruh besar terhadap perkembangan dan keberhasilan pendidikan anak-anaknya. Nabi Muhammad SAW lahir dari rahim perempuan terbaik bahkan makhluk terbaik, yaitu Sayyidatina Siti Aminah. Di balik kesuksesan setiap orang ada banyak faktor yang mendukungnya. Salah satu faktor pendukung tersebut diantaranya adalah peran seorang perempuan. Hal demikian disampaikan Rais ‘Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Miftachul Akhyar saat mengisi tausiah di hadapan para peserta kongres XVI Fatayat NU, Palembang pada Sabtu (16/7/22). Kiai Akhyar mengatakan, bahkan kesuksesan tokoh-tokoh besar Islam seperti Imam Syafi’i, Imam Malik dan tokoh-tokoh ulama serta para mujahid lainnya terdapat peran perempuan di belakangnya atas perjuangan, semangat, dan dorongan yang merupakan kontribusi besar dari peran seorang perempuan. (jabar.nu.or.id)
Perempuan lain yang disebut Rasulullah sebagai penghuni surga diantaranya Maryam binti ‘Imran, Khadijah binti Khuwailid, Fatimah binti Muhammad, dan Asiyah istri Fir‘aun.” Hadits ini terekam dalam Shahih Muslim dan Musnad Ahmad, dan diakui kesahihannya oleh mayoritas ulama. Keempat wanita ini bukan sekadar tokoh spiritual, melainkan representasi puncak keteladanan iman, keberanian moral, dan kontribusi nyata dalam sejarah Islam.
Perempuan juga sebagai tiang negara. Perempuan itu candradimuka. Jika perempuannya baik, maka negara akan berdiri tegak kokoh dengan melahirkan generasi yang terbaik. Perempuan sebagai seorang ibu memiliki peran sentral dalam membangun peradaban. Dari rahim perempuan diharapkan lahir generasi yang baik, membentuk masyarakat yang baik, dari masyarakat yang baik lahirlah pemimpin terbaik untuk bangsa dan negara Indonesia.
Dari paparan di atas, menurut penulis yang dapat kita lakukan sebagai perempuan dalam meneladani jejak Kartini adalah dengan meningkatkan kapasitas diri melalui pendidikan atau belajar sepanjang hayat. Pendidikan sebagai pilar utama masa depan. Perempuan harus belajar sepanjang masa dimanapun, kapanpun, dan dari siapapun. Saat ini belajar bisa dengan mudah dilakukan tanpa harus mengenyam pendidikan formal. Melalui berbagai media dan sumber, di era serba digital perempuan dapat mengakses ilmu pengetahuan secara luas dengan sangat mudah dan cepat. Belajar berbagai ilmu pengetahuan dan ketrampilan dapat menjadi bekal bagi perempuan dalam mengemban amanah sebagai seorang ibu dalam keluarga dan sekaligus ibu dalam lingkungan sosial kemasyarakatan. Selain ilmu pengetahuan dan ketrampilan, perempuan juga harus belajar dan berusaha untuk meningkatkan kecerdasan emosional dan spiritual. Keduanya merupakan ranah penting bagi seorang perempuan sebagai figur teladan Pendidikan Karakter anak bangsa.
Dengan demikian perempuan yang memiliki bekal ilmu pengetahuan dan ketrampilan dengan dibingkai kecerdasan emosional dan spiritual akan menjadi investasi bagi masa depan yang lebih baik. Masa depan keluarga, bangsa, dan dunia yang lebih beradab.
Wallahu a’lam bish showab