Oleh: Dr. Luluk Ernawati, M.A.
Guru Pendidikan Agama Islam & Budi Pekerti SMA NU 1 Gresik
Dosen STIT Raden Santri Gresik
Tanggal 2 Mei bangsa Indonesia memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Tanggal ini ditetapkan sebagai penghormatan atas jasa besar Ki Hadjar Dewantara, tokoh pelopor pendidikan nasional yang menggagas konsep pembebasan dan kemerdekaan berpikir melalui pendidikan.
Hardiknas 2026 mengambil tema “Menguatkan Partisipasi Semesta, Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua”. Melalui tema itu, seluruh elemen dan insan pendidikan di Indonesia diharapkan dapat menguatkan komitmen soal penting dan strategisnya pendidikan bagi peradaban dan daya saing bangsa. Kolaborasi seluruh pihak mulai dari orang tua, lingkungan, dan instansi diperlukan untuk menciptakan ekosistem belajar yang berkualitas, berkarakter, dan merata di era digital.
Konsep “partisipasi semesta” mengandung makna pendekatan kolaboratif atau whole-of-society approach, yang diyakini menjadi kunci dalam mewujudkan sistem pendidikan yang inklusif, adaptif, dan berkelanjutan. Sedangkan “pendidikan bermutu untuk semua” menekankan pentingnya pemerataan akses pendidikan berkualitas tanpa diskriminasi, baik dari sisi geografis, sosial, maupun ekonomi. (s3pendsains.fmipa.unesa.ac.id)
Momentum Hardiknas 2026 memiliki keterkaitan kuat dengan agenda Global United Nations, khususnya dalam pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) poin ke-4, yaitu SDG 4: Quality Education. Namun, harapan lebih luas tidak hanya terbatas pada SDG 4. Melalui Pendidikan dapat mencapai 17 tujuan dari Sustainable Development Goals (SDGs).
Sustainable Development Goals (SDGs) atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan adalah serangkaian 17 tujuan yang dicanangkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebagai cetak biru untuk mencapai masa depan yang lebih baik dan lebih berkelanjutan bagi semua orang. Ini merupakan agenda global dari PBB yang disepakati 193 negara (termasuk Indonesia) untuk mencapai masa depan lebih baik pada 2030. Terdiri dari 17 tujuan dan 169 target, fokusnya mengatasi kemiskinan, ketimpangan, dan perubahan iklim dengan prinsip “no one left behind“. SDGs diadopsi pada tahun 2015 sebagai bagian dari Agenda 2030 untuk Pembangunan Berkelanjutan. (undiknas.ac.id/2024/05/sdg-pengertian-tujuan-dan-sasaran)
Adapun 17 tujuan SDGs tersebut adalah: Tanpa Kemiskinan; Tanpa Kelaparan; Kesehatan yang Baik dan Kesejahteraan; Pendidikan Berkualitas; Kesetaraan Gender; Air Bersih dan Sanitasi; Energi Bersih dan Terjangkau; Pekerjaan yang Layak dan Pertumbuhan Ekonomi; Industri, Inovasi, dan Infrastruktur; Mengurangi Ketimpangan; Kota dan Komunitas yang Berkelanjutan; Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab; Penanganan Perubahan Iklim; Ekosistem Lautan; Ekosistem Daratan; Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh; Kemitraan untuk Mencapai Tujuan. (undiknas.ac.id/2024/05/sdg-pengertian-tujuan-dan-sasaran/)
Dari tujuan-tujuan diatas, yang terkait dengan tujuan Pendidikan adalah point 4, yakni Pendidikan Berkualitas. Namun, tidak dipungkiri untuk mencapai tujuan bidang yang lain tentu harus pula dilewati dengan proses pendidikan. Pendidikan merupakan kunci utama tonggak peradaban dunia. Ayat pertama yang diturunkan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah, “Iqra’ bismi rabbika alladzi khalaq” (Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan). Ini menandakan pentingnya manusia untuk membaca apapun yang ada di semesta. Ayat lain sebagai motivasi pendidikan adalah Qs. Al-Mujadilah ayat 11, “Allah akan mengangkat orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.”
Untuk mewujudkan SDGs diperlukan pemikiran kritis dan mendalam melalui konsep pendidikan yang holistik. Salah satu yang dapat dijadikan landasan adalah Konsep Ulul Albab. Konsep ini didasarkan pada QS. Ali Imron ayat 190-191, yang artinya: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal (Ulul Albab), (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.”
Ulul albab memiliki beberapa arti, yang dikaitkan pikiran (mind), perasaan (heart), daya pikir (intellect), tilikan (insight), pemahaman (understanding), kebijaksanaan (wisdom). (www.uii.ac.id/membumikan-konsep-ulul-albab).
Dalam tafsir QS. Ali Imran ayat 190-191, Ibnu Katsir menekankan pentingnya pengamatan terhadap penciptaan langit dan bumi sebagai bukti kebesaran Allah, serta refleksi mendalam sebagai tanda kecerdasan dan pengakuan akan kekuasaan-Nya. Ayat ini menekankan pentingnya berpikir kritis dan selalu berzikir dalam berbagai keadaan. Hamka dalam tafsir Al Azhar menambahkan bahwa Ulul Albab adalah mereka yang mendengarkan ajaran Allah dengan penuh perhatian dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari dengan bijaksana. Quraish Shihab dalam tafsir Al Mishbah melihat Ulul Albab sebagai mereka yang menggunakan akal sehat untuk memahami kompleksitas dan keindahan ciptaan Allah, serta menggali makna spiritual di balik fenomena alam. (AL-AFKAR: Journal for Islamic Studies)
Gelar Ulul Albab yang disebutkan dalam Al-Qur’an ini ditujukan kepada orang yang berakal dan berzikir, mengintegrasikan pemikiran kritis tentang alam semesta dengan kesadaran spiritual. Implementasi konsep Ulul Albab pada setiap individu akan mampu menghasilkan pribadi yang memiliki pola pikir kritis, kreatif, inovatif, dan bertanggung jawab. Sebagai orang tua, mampu memahami tanggung jawabnya terhadap anak-anaknya, mampu berpikir apa yang terbaik untuk anak-anaknya, dan tentunya akan berpartisipasi untuk keberhasilan pendidikan anaknya. Demikian pula sebagai pendidik, pemegang kebijakan pendidikan, tokoh masyarakat, warga negara, pemilik industri atau yang lainnya. Semuanya berusaha untuk menanamkan dalam dirinya sebuah motto “Melangkah ke masa depan dengan pikir dan zikir”. Apapun peranannya dalam masyarakat tentu akan memahami tanggung jawab masing-masing dan merasa terpanggil untuk berpartisipasi mendidik generasi bangsa demi tercapainya pendidikan berkualitas dan merata untuk semua. Inilah juga yang menjadi motto SMA NU 1 Gresik. Melalui motto tersebut berharap semua warga sekolah dan sekitarnya mampu menjadi pribadi ulul albab, yakni pribadi yang senantiasa berpikir tentang segala ciptaan Allah SWT yang ada di alam semesta dan berzikir dalam kondisi apapun, kapanpun, dan dimanapun. Dengan demikian menunjukkan potensi kuat sebagai landasan etis teologis-sosiologis untuk mewujudkan tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs) sehingga dapat tercapai kesejahteraan dan kebahagiaan di dunia akhirat, sebagaimana dalam doa Sapu Jagat yang senantiasa kita panjatkan, Robbana aatina fiddunya hasanah, wa fil aakhiroti hasanah, wa qinaa ‘adzaabannaar. Aamiin.
Waallahu a’lam bish showab.