Oleh: Sakdiyah Hidayati, M.Pd. Guru Bahasa Indonesia SMA Nahdlatul Ulama 1 Gresik

Menulis adalah proses bernalar. Untuk menulis mengenai suatu topik kita harus berpikir, menghubung-hubungkan berbagai fakta, membandingkan dan sebagainya (Sabarti, dkk, 1988: 41). Menurut Massi (2001: 1), menulis adalah suatu bentuk sistem komunikasi lambang visual dengan mengungkapkan gagasan melaui media bahasa.

Berdasarkan hasil observasi  bahwa motivasi menulis puisi siswa sangat rendah, proses pembelajaran menulis cenderung melahirkan sikap individualis, karena menulis puisi memerlukan konsentrasi tingkat tinggi, siswa kurang melakukan kegiatan menulis puisi, padahal keterampilan menulis puisi  dapat dicapai melalui latihan intensif dan bimbingan sistematis. Bagi siswa, menulis puisi merupakan sesuatu sangat sulit dilakukan, dan secara akademis nilai mereka tidak memuaskan. Situasi pembelajaran yang demikian apabila terjadi terus menerus, tentu tujuan pembelajaran bahasa Indonesia materi menulis puisi tidak akan tercapai.

Salah satu faktor berpengaruh terhadap hasil belajar siswa adalah metode pembelajaran yang digunakan (Slameto, 2010). Metode pembelajaran efektif akan mampu meningkatkan hasil belajar siswa. Sebaliknya apabila metode yang digunakan adalah metode tidak menuntut siswa untuk aktif dan kreatif maka berdampak pada hasil belajar yang tidak memuaskan, termasuk didalamnya mampu menumbuhkan karakter siswa.

Realitas tersebut melahirkan pemikiran untuk mencari dan menerapkan metode pembelajaran yang menarik dan menyenangkan. Harapannya keberhasilan pembelajaran menulis puisi dapat dicapai dengan baik. Dari observasi yang dilakukan, siswa memiliki daya konsentrasi sangat rendah disebabkan situasi kelas ramai. Siswa menginginkan pembelajaran menulis puisi dalam suasana kondusif, sehingga dapat dibangun daya konsentrasi.

Untuk mengatasi problematika di atas maka, terciptalah sebuah metode pembelajaran menulis puisi yaitu “hypnoteaching berbantuan musik”. Metode ini akan digunakan untuk menumbuhkan pembelajaran menulis puisi siswa kelas XI di SMA NU 1 Gresik.

Hasil penelitian terdahulu yang pernah dilakukan oleh Muharningsing dan Siahaan diketahui bahwa hypnoteaching dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran kewirausahaan. Terdapat hal yang membedakan antara penelitian terdahulu dengan inovasi ini, yaitu: 1) digunakan metode hypnoteaching dengan memanfaatkan musik; dan 2) diterapkan untuk pembelajaran menulis puisi yang memerlukan tingkat konsentrasi tinggii.

Berdasarkan latar belakang tersebut  maka dapat diidentifikasikan masalah dalam pembelajaran menulis puisi, sebagai  berikut: 1) siswa mengalami kesulitan  menuangkan ide dan merangkai tulisan sehingga kemampuan menulis puisi siswa rendah; 2) siswa kurang tertarik menceritakan suatu peristiwa melalui tulisan sehingga alur pemikirannya masih melompat-lompat; 3) siswa mengalami kesulitan dalam menentukan tema menulis puisi dan kurangnya kemampuan mengembangkan tulisan; 4) guru mengalami kesulitan dalam membangkitkan minat belajar siswa, dan menentukan metode   tepat untuk menyampaikan materi menulis puisi.

Hypnosis adalah fenomena mirip tidur, namun bukan tidur. Hypnoteaching dalam pembahasan di sini dapat diartikan sebagai proses pengajaran yang dapat memberikan sugesti para peserta didik. Adapun makna tidur di sini bukan berarti kondisi tidur secara normal di malam hari, namun menidurkan sejenak aktivitas pikiran sadar dan mengaktifkan pikiran bawah sadar (Noer, 2010: 117).

Metode hypnoteaching dapat didefinisikan sebagai metode pembelajaran yang dalam menyampaikan materi, guru memakai bahasa-bahasa bawah sadar bisa menumbuhkan ketertarikan tersendiri peserta didik (Yustisia, 2012: 73). Teknik hypnosis tanpa disadari sering dilakukan oleh guru, misalnya seorang guru piawai memberikan motivasi kepada anak didiknya untuk belajar, tanpa disadari sebenarnya guru tersebut telah mengaplikasikan tehnik-tehnik hipnosis dalam kehidupan sehari-hari.

Pertama, dibutuhkan suasana yang benar-benar kondusif. Suasana gaduh di luar kelas akan mengganggu suasana hening yang harus diciptakan untuk menunjang keberhasilan secara maksimal penerapan hypnoteaching.

Kedua, dibutuhkan konsentrasi yang tinggi; Metode hypnoteaching berbantuan musik adalah sebuah metode yang sangat efektif untuk bisa diaplikasikan di kelas. Menciptakan konsentrasi pada mulanya sangat sulit, sehingga diperlukan energi ekstra untuk memberikan pemahaman pentingnya konsentrasi tingkat tinggi. Jika energi ekstra tidak dimiliki, otomatis akan sangat sulit mengontrol sikap peserta didik saat pertama kali metode ini diterapkan. Apabila hal ini terjadi, maka sudah dapat dipastikan tujuan pembelajaran semula tidak akan tercapai.

Proses pembelajaran berjalan lebih dinamis dan ada interaksi yang baik antara guru dengan peserta didik. Peserta didik dapat berkembang sesuai dengan bakat dan minatnya. Proses pembelajaran keterampilan menulis puisi mampu ditumbuhkan dengan baik. Proses pembelajaran berjalan lebih beragam. Peserta didik bisa dengan mudah menguasai materi, karena termotivasi lebih untuk giat belajar. Pembelajaran bersifat aktif dengan pemantauan terhadap peserta didik lebih intensif. Peserta didik dapat berimajinasi dan berpikir kreatif. Peserta didik melakukan pembelajaran dengan senang hati, daya serapnya lebih cepat dan lebih bertahan lama, karena mereka tidak diarahkan untuk menghafal. Semuanya terlihat dalam bait-bait puisi yang dihasilkan selama proses pembelajaran dengan hypnoteaching berbantuan musik yang diikuti.

Adapun pelajaran yang diperoleh pada aspek psikis, antara lain:  rasa nyaman dalam belajar; rasa rileks dalam belajar; belajar dengan bahagia tanpa ada rasa takut dan tidak tertekan; memiliki daya fokus tinggi dalam belajar; antusiasme belajar sangat tinggi.

Ada beberapa tahapan  dilakukan  dalam penerapan hypnoteaching berbantuan musik yang dilaksanakan di SMA NU 1 Gresik, antara lain: 1) dilakukan relaksasi; pada tahap ini diciptakan kesan pertama yang menyenangkan dalam setiap proses pembelajaran, dengan melakukan: a) mengatur suasana kelas untuk mendukung suasana pembelajaran yang menyenangkan, meliputi kebersihan kelas, susunan bangku, penerangan kelas; b) membuka pembelajaran dengan menggunakan kalimat pembuka yang menenangkan bagi murid; 2) menarik perhatian; merupakan tahap apersepsi yang diawali dengan doa, menyamakan gerakan, maupun tampilan media  menarik; 3) membangun tema; guru mementukan sebuah tema  menarik dalam proses pembelajaran untuk menggugah semangat dan rasa ingin tahu siswa akan materi yang disampaikan. Tema bisa berupa frase maupun kalimat menarik merupakan pancingan pada pikiran bawah sadar siswa; 4) menampilkan struktur dan peraturan; saat memulai pembelajaran, guru memberikan pembelajaran secara general, kemudian secara detail. Tujuannya agar sebelum pelajaran dimulai, siswa sudah memiliki gambaran dipikirannya mengenai apa yang akan dipelajarinya. Peraturan sanksi juga diterapkan agar pikiran bawah sadar siswa mampu melingkupi apa yang seharusnya menjadi fokus pusat perhatiannya selama proses pembelajaran berlangsung; 5) membangun hubungan; guru bersama siswa melakukan teknik-teknik seperti breathing (menarik napas sama-sama), mirroning (menyamakan gerakan tubuh guru dan murid) maupun penggunaan bahasa-bahasa persuasi yang bersifat mengajak agar kata-kata guru dapat langsung didengar oleh pikiran bawah sadar murid.

Adapun langkah-langkah pembelajaran  dengan pendekatan saintifik pada siswa di SMA NU 1 Gresik, sebagai berikut: 1) Guru meminta siswa untuk menutup mata; 2) Saat mata mereka tertutup, lanjutkan untuk menarik napas panjang, dan keluarkan pelan-pelan; 3)Siswa diminta untuk memfokuskan pikiran untuk mendengarkan pemutaran musik klasik pertama; 4)Siswa  menuliskan baris pertama puisi, berdasarkan penghayatannya terhadap pemutaran musik klasik  pertama; 5)Siswa diminta untuk memfokuskan pikiran untuk mendengarkan pemutaran musik klasik kedua; 6)Siswa  melanjutkan menuliskan baris kedua puisi, berdasarkan penghayatannya terhadap pemutaran musik klasik  kedua; 7) Sekali lagi siswa memberikan hasil kerja kepada teman sebelahnya. Begitu seterusnya sampai pada pemutaran musik klasik kedua; dan 8) Siswa diminta untuk menyunting hasil kerja temannya dan memberikan judul terhadap pusi tersebut.

Untuk menunjang keberlangsungan pelaksanaan metode hypnoteachig  berbantuan musik yang telah dilakukan di SMA NU 1 Gresik, terdapat beberapa instrumen yang disiapkan, yaitu: 1) Materi pembelajaran puisi, musik klasik, dan skenario pembelajaran harus dipersiapkan dengan matang. Materi berkaitan dengan keterampilan menulis puisi; 2) Merancang tahap-tahap pembelajaran dengan menggunakan pendekatan “Scientific Approach/ 5M”. Karena, jika tidak merencanakannya secara sistematis dan penuh perhitungan, kadangkala guru terlena menghipnotis siswa, membuat alokasi waktu tahap selanjutnya menajadi berkurang.

Mengacu pada permasalahan dan rencana pemecahan masalah, maka dapat disimpulakan bahwa metode hypnoteaching berbantuan musik ini mampu; 1)  menciptakan kondisi psikis yang stabil dalam belajar, tidak ada tekanan, tidak ada rasa takut, dan tidak ada rasa malas; 2) meningkatkan sugestibilitas  peserta didik agar dengan mudah menerima saran dan motivasi positif; 3) membiasakan peserta didik dengan sugesti dan teladan positif karena metode hypnoteaching menuntut guru mampu merubah sikap peserta didik menjadi lebih baik dengan sugesti dan teladan  positif; 4) memberikan rangsangan pada peserta didik dalam keterampilan menulis puisi dengan hasil 100 persen mengalami ketuntasan.

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Depdikbud. 2014. Bahasa Indonesia Ekspresi diri dan Akademik. Jakarta: Pusat Kurikulum dan Perbukuan.

Massi, M. P. 2001. Interactive Wriring in the EFL Class: A. (Online)http://www.iteslj.org/techniques/Massi?Writingtastk.html. Diakses tanggal 2 Agustus 2014.

Noer, Muhammad. 2010. Hypnoteaching for Succes Learning. Yogyakarta: PT. Bintang Pustaka Abadi.

JL. RADEN SANTRI V/22 GRESIK 61114 JAWA TIMUR INDONESIA