SEJARAH PERKEMBANGAN SEKOLAH

.

Dan dari gedung yang berfasilitas komplit itu (yang dulunya bekas pemakaman warga Belanda), kita akan menyaksikan, bagaimana pendidikan Nahdlatul Ulama, pendidikan yang berbasis Aswaja tanpa meninggalkan pola-pola kemoderenan, sedang berlangsung. Ini terlihat, dengan pencamtuman nama Nahdlatul Ulama di belakang nama SMA. Pencamtuman yang tak berubah sejak sekolah ini didirikan oleh warga Nahdlatul Ulama Gresik, yaitu tahun 1968. Pencamtuman yang kerap membuat sekolah ini jatuh-bangun. Terutama karena kondisi politik. Seperti pada tahun 1970-an, karena kondisi politik yang ada, banyak sekolah milik Nahdlatul Ulama yang mengubah namanya. Menjadi nama sekolah umum. Tapi, bagi SMA Nahdlatul Ulama I Gresik, tetap mencantumkan nama Nahdlatul Ulama sampai sekarang.

                Lain itu, seperti sebuah perjuangan yang jatuh-bangun, SMA Nahdlatul Ulama I Gresik pun begitu. Pernah pada satu angkatan hanya mempunyai 14 siswa. Pada waktu itu, antara jumlah siswa dengan jumlah guru, masih banyak jumlah gurunya. Tetapi berkat kegigihan guru-guru dan pimpinan sekolah, SMA Nahdlatul Ulama I Gresik lambat laun berubah menjadi sekolah yang berprestasi dan diminati masyarakat. Sehingga, setiap tahunnya,  banyak siswa yang berebut-keras masuk ke sekolah tersebut.  Ini terjadi karena seleksi yang ketat dan terbatasnya daya tampung bagi siswa yang masuk. Dan perlu diketahui, bahwa saat ini (tahun 2015-2016) jumlah siswa di SMA Nahdlatul Ulama I Gresik ada 1068 siswa, yang terbagi menjadi 30 rombogan belajar.  Dengan 76 guru pengajar dan 24 pegawai.

                Memang, jika menelisik perkembangan yang ada, tahun-tahun keemasan SMA Nahdlatul Ulama I Gresik, mulai terlihat di lima tahun belakangan. Ini terjadi, karena kaderisasi guru yang berjalan, juga karena terobosan-terobosan yang dilakukannya. Misalnya, mengadakan hubungan kerja dengan perguruan-perguruan tinggi, baik yang ada di dalam negeri maupun di luar negeri. Untuk perguruan tinggi dari dalam negeri, dapat dirujuk pada ISI Surakarta. Yang pernah melakukan seleksi untuk para calon mahasiswanya di SMA Nahdaltul Ulama I Gresik. Sedangkan, untuk perguruan tinggi dari luar negeri, dapat dirujuk pada perguruan tinggi dari Thailand, China, Taiwan, Jepang dan Korea Selatan. Yang juga melakukan seleksi untuk para calon mahasiswanya di SMA Nahdaltul Ulama I Gresik.

                bahwa apa yang diraih SMA Nahdlatul Ulama I Gresik tidak terlepas dari konsep ikan yang berenang melawan arus dan pelayanan yang terpadu. Artinya, jika kita melihat ikan-ikan di tambak (memang Drs. H. Moh. Nasihuddin, M.Pd juga seorang petambak di kampungnya, Betoyo Gresik), hanya yang berani berenang melawan arus saja yang akan bertahan. Sedangkan, yang mengikuti arus, akan terseret dan hilang. Dan konsep ini, terlihat pada sekian keputusan yang ada. Misalnya, ketika SMA Nahdlatul Ulama I Gresik bukan merupakan SMA yang ditunjuk untuk menjalankan Kurikulum 2013, tetapi dengan berani, tetap melaksanakan kurikulum itu secara mandiri. Banyak kegiatan yang ditinggalkan oleh banyak sekolah, justru ditangan beliau dikelola dikembangkan dan merupakan ciri dan kebanggaan SMA NU 1 Gresik.

                Tentu saja, untuk melaksanakan konsep di atas, juga harus dibarengi dengan pelayanan yang terpadu. Sebab, jika tidak, maka konsep itu hanya sekadar konsep. Untuk pelayanan terpadu ini, Drs. H. Moh. Nasihuddin, M.Pd mencanangkan gerakan 3P: “Penampilan, Pelayanan dan Prestasi”. Untuk P pertama adalah Penampilan. Penampilan sekolah yang pertama kali mesti dibenahi. Mulai dari mengubah tatanan ruang, baik ruang kelas, ruang guru, ruang administrasi, ruang laboratorium, dan ruang-ruang lainnya, baik segi interior maupun eksteriornya, agar tampak rapi dan bersih. Nah, setelah itu baru mengubah budaya warga sekolahnya menjadi senang kebersihan, rapi, dan mengedepankan keteladanan sopan santun. Dalam arti, yang tua harus menjadi teladan bagi yang muda. Kepala sekolah menjadi teladan bagi para guru. Guru teladan bagi siswanya. Yang kelas XII teladan bagi kelas XI. Yang kelas XI teladan bagi kelas X. Akhirnya budaya sekolah yang baik, santun, dan senang kebersihan, mengimbas ke cara berpakaian, cara berpenampilan, dan cara mengemas berbagai acara dan kegiatan.

                Sedangkan, untuk P kedua adalah Pelayanan.  Pelayanan adalah kunci keberhasilan sekolah. Baik pelayanan ke guru dan pegawai, pelayanan ke siswa maupun pelayanan ke masyarakat dan stakeholder. Untuk pelayanan ke siswa adalah prioritas utama dalam pengembangan dan penataan sekolah agar diminati masyarakat. Semua jurusan dibuka, yaitu jurusan IPA, IPS dan Bahasa/Budaya. Agar dapat melayani berbagai  jenis bakat dan minat siswa. Bukan hanya tiga jurusan itu saja menjadi tolok ukur melayani berbagai bakat dan minat siswa, tetapi ekstrakurikuler pun disiapkan (di SMA Nahdlatul Ulama I Gresik dibuka 39 macam ekstrakurikuler). Jika semua siswa terlayani bakat dan minatnya, kita yakin tidak ada anak yang nakal. Karena anak nakal adalah anak yang tidak tersalurkan bakat dan minatnya.  Dan untuk melaksanakan ekstrakurikuler yang begitu banyak, dan semuanya harus eksis, tidak bisa dengan cara-cara biasa. Harus berpegang pada kerja-keras, kerja-cerdas, kerja-tuntas, dan kerja-ikhlas. Semua guru dan pegawai di sekolah pun mesti saling bahu-membahu.

                Lalu, untuk P yang ketiga atau terakahir, yaitu Prestasi. Untuk hal prestasi ini, tidak usah diprogramkan. Sebab jika sekolah sudah mengedepankan penampilan dan pelayanan, maka prestasi akan muncul dengan sendirinya. Baik prestasi yang bertaraf daerah, propinsi, nasional, ataupun internasional.

KOMENTAR